Siapa itu George Soros

George Soros – Sang “Penghancur” Bank of England

Diposting pada

Bagi Anda yang merupakan seorang trader atau orang yang berkecimpung di dunia investasi pasti tak asing lagi dengan nama George Soros.

Ya, George Soros yang merupakan pelaku pasar keuangan berkebangsaan Amerika Serikat ini dianggap sebagai legenda hidup di dunia investasi.

Soros sendiri sangat dikenal sebagai trader mata uang dan investor yang namanya sering disandingkan dengan legenda lainnya yaitu Warren Buffett – karena mereka berdua “tumbuh” pada periode waktu yang sama.

Ketika George Soros membuat posisi yang dianggap spekulatif pada tahun 1992 kala itu dengan aksi menjual Poundsterling dan dia mendapatkan keuntungan yang sangat fantastis hanya dalam satu periode perdagangan saja.

Sejak saat itu dia dikenal sebagai “Orang yang menghancurkan Bank of England”.

Bagi warga Inggris saat itu George Soros mungkin dianggap sebagai perusak ekonomi Inggris, sementara di beberapa kawasan Uni Eropa khususnya Jerman, Soros dianggap pahlawan karena mengangkat nilai tukar mata uang mereka.

Salah satu aksi seorang George Soros yang dicatat sebagai perdagangan “Spekulatif” namun memiliki dampak yang cukup luar biasa di pasar keuangan yaitu ketika dia meruntuhkan nilai tukar Poundsterling dan Thai Baht yang pada akhirnya menggoncang pasar keuangan.

Inggris Mengadopsi Mekanisme Nilai Tukar

Keruntuhan nilai tukar Sterling dimulai ketika Inggris bergabung dan mengadopsi nilai tukar ERM yang digunakan oleh beberapa negara di Eropa.

Pada tahun 1979 Perancis dan Jerman berinisiasi untuk menjalankan sebuah program yang bernama European Monetary System (EMS) untuk menjaga kestabilan nilai tukar, mengurangi laju inflasi serta untuk mematangkan kebijakan moneter di masa mendatang.

Mekanisme Nilai Tukar (Exchange Rate Mechanism – ERM) merupakan salah satu alat kebijakan dari EMS, dengan menggabungkan nilai tukar mata uang menjadi satu basis kurs menjadi European Currency Unit (ECU).

Pada awalnya, peserta hanya ada beberapa negara di Eropa yang ikut dalam EMS ini, di antaranya Perancis, Jerman, Italia, Belanda, Belgia, Denmark, Irlandia, dan Luksemburg.

Kedelapan negara tersebut sepakat untuk mempertahankan nilai tukar mata uang masing-masing dalam rentang fluktuasi di sekitar 2,25% untuk setiap nilai tukar ECU. Setelah kesepakatan tersebut, kemudian diberlakukanlah ERM guna menkolerasikan nilai tukar mata uang.

Setelah beberapa tahun mengadopsi ERM, pada tahun 1989 Jerman mengalami inflasi yang cukup tinggi, diiringi dengan pengeluaran anggaran pemerintah yang melonjak memaksa Bundesbank selaku pemimpin di EMS untuk mencetak uang lebih banyak.

Langkah tersebut menyebabkan inflasi yang tinggi dan mendorong Bank sentral Jerman untuk menaikan suku bunga. Seiring berjalannya waktu, kenaikan suku bunga yang dilakukan bank sentral malah membuat nilai tukar Deutsche Mark (DEM) mengalami tekanan.

Hingga pada akhirnya pada tahun 1990, Inggris memutuskan untuk bergabung dan mata uang Sterling dipasangkan terhadap DEM (GBP/DEM) – mata uang Jerman waktu itu.

Sampai pada pertengahan 1992, ERM dianggap sebagai salah satu metode yang sukses untuk menstabilkan nilai tukar serta mengurangi pertumbuhan inflasi di beberapa kawasan Eropa.

Meski pada akhirnya menjadi metode yang berdampak positif bagi negara-negara Eropa, namun stabilitas tersebut diyakini tidak akan bertahan lama karena para pelaku pasar dan investor global menilai bahwa nilai tukar beberapa mata uang ERM tidak sesuai dengan kondisi fundamental saat itu.

Hal itu memaksa bank sentral lain untuk menaikan suku bunga mereka guna mempertahankan nilai tukar mata uang yang diperdagangkan terhadap mata uang ERM.

Di saat beberapa bank sentral beramai-ramai menaikan suku bunga, seorang George Soros melihat sebuah kesempatan. Saat itu ekonomi Inggris sedang lemah seiring dengan tingkat pengangguran yang tinggi , sehingga tidak dapat memberikan pilihan banyak bagi Bank sentral Inggirs dan terus mengadopsi kebijakan yang lama tanpa bisa menaikan suku bunga.

Hingga George Soros akhirnya melakukan aksi jual terhadap pounsterling dengan nilai keuntungan sebesar $1 miliar dolar dalam satu kali perdagangan. Aksi spekulasi ini dikenal unik karena George Soros menggunakan uang pinjaman di pasar forward.

“Keuntungan yang saya hasilkan dari transaksi tersebut sekitar $1 miliar dolar. Metodenya sangat sederhana, ketika di pasar forward saya meminjam 1 juta GBP dan langsung menjualnya di pasar mata uang. Setelah itu kembali membeli sterling di saat tempo pinjaman berakhir.” terangnya.

Soros Berspekulasi Melawan Inggris di ERM

Sebagian proyeksi mencatat mayoritas hedge fund menilai bahwa jika nilai tukar Sterling akan terdepresiasi.

Proyeksi tersebut muncul ketika Inggris mulai mengadopsi ERM namun dalam situasi ekonomi yang tidak stabil. Ada dua pilihan bagi BoE waktu itu, yaitu mendevaluasi nilai sterling dan terus menggunakan ERM atau meninggalkan ERM.

Berkat adanya kebijakan terkait dihapusnya kontrol intervensi terhadap mata uang di EMS, para investor dan pelaku pasar memiliki lebih banyak kebebasan dalam melakukan variasi perdagangan, khususnya terhadap mata uang EMS.

Saat itu Soros mengambil kesempatan dengan melakukan aksi jual Sterling terhadap Deutsche Mark meski dia juga sedang bertransaksi di pasar forward. Selain itu dia juga sedang bertransaksi di pasar options and futures.

Secara keseluruhan, total posisi yang dia pegang saat itu sekitar $10 miliar.

Tentu saja, Soros bukan satu-satunya pelaku pasar yang memiliki posisi sebesar itu dalam satu waktu. Banyak hedge fund yang juga menempatkan posisi mereka “melawan” sterling pada saat itu. Melihat catatan dari transaksi yang dirilis oleh beberapa lembaga keuangan dan bank-bank besar, banyak para pelaku yang juga melakukan aksi jual terhadap sterling.

Pada awalnya Bank sentral Inggris mencoba untuk mempertahankan suku bunga saat itu dengan nilai $15 miliar sebagai aset cadangan. Namun di waktu yang sama BoE juga membiarkan adanya intervensi mata uang di pasar terbuka sehingga kebijakan yang dilakukan BoE dianggap sia-sia dalam melindungi nilai tukar sterling dan menyentuh level terendahnya.

Pada 16 September 1992, BoE mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 2bp, dari awalnya 10% menjadi 12% guna meningkatkan daya tarik sterling di mata pelaku pasar.

Akan tetapi beberapa jam setelah diumumkannya kebijakan tersebut nilai tukar sterling masih berada tekanan, memaks BoE mengeluarkan pernyataan bahwa akan meningkatkan suku bunga lagi menjadi 15%.

Seiring berjalannya waktu, kenaikan suku bunga yang dilakukan BoE tidak menghentikan aksi jual para pelaku pasar terhadap sterling dan terus menambah volume dengan jumlah yang cukup besar.

Lamount Menyelamatkan Poundsterling

Hingga pada akhirnya aksi jual terhadap sterling perlahan berhenti setelah Norman Lamont yang selaku Kanselir Inggris mengumumkan bahwa Inggris akan meninggalkan ERM dan akan mengembalikan tingkat suku bunga ke acuan awal yaitu 10%.

Hari itu Sterling mengalami depresiasi yang sangat tajam sehingga dijuluki salah satu hari paling kelam bagi Inggris dan dikenal sebagai Black Wednesday.

Sampai saat ini masih terjadi perdebatan, apakah anjloknya nilai tukar sterling akibat “serangan-tunggal” yang dipimpin oleh George Soros atau adanya akumulasi volume yang cukup besar menekan sterling. GBP/DEM mengalami penurunan sekitar 15%, sementara GBP/USD turun sebesar 25%.

Meski belum dapat dipastikan strategi apa yang digunakan Soros saat itu jika melihat fundamental yang positif ketika Inggris mengadopsi ERM, akan tetapi aksi spekulasi yang dilakukannya dapat menghasilkan perdagangan yang luar biasa.

Saat ini George Soros dikenal sebagai salah satu trader forex tersukses yang pernah ada.

Add a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 komentar

Latest Articles