Sejarah Intervensi Pemerintah Bank Sentral

Sejarah Intervensi Pemerintah & Bank Sentral di Masa Lalu

Diposting pada

Berikut ini adalah publikasi dan sejarah intervensi yang dilakukan bank-bank sentral di pasar forex, di antaranya :

1978-1979 – Pada jangka waktu ini nilai tukar Dolar AS berada di bawah tekanan berat karena tingginya harga minyak. Selain itu inflasi AS yang tinggi dan neraca pembayaran yang memburuk membuat dolar AS terdepresiasi. Pada bulan November 1978, sebuah program untuk memulihkan dan menstabilkan dolar AS. Pemerintah dan bank sentral AS saat itu mengucurkan dana hingga $30 miliar untuk membeli mata uang USD dengan tujuan membuat dolar AS kembali terapresiasi.

1980-1981 – Otoritas dan pemerintah AS terjun ke pasar forex untuk menstabilkan nilai tukar dolar yang terlalu kuat.

September 1985 (Plaza Accord) – Jerman, Jepang, Inggris, Prancis dan Amerika Serikat – bertemu di Plaza Hotel di New York untuk membahas kekhawatiran tentang nilai tukar dolar yang sangat kuat terhadap mata uang di negara-negara Eropa. Dalam waktu beberapa minggu ada intervensi dengan menjual dolar AS dengan mata uang G5.

Februari 1987 (Louvre Accord) – Nilai tukar Dolar melemah, defisit perdagangan AS yang meningkat dan prospek melemahnya ekonomi AS setelah beberapa bulan terjadi kesepakatan Plaza Accord. Plaza Accord menimbulkan kekhawatiran di Eropa dan Jepang tentang pelemahan dolar yang terus berlanjut. Group of Five (G5) ditambah dengan Italia bertemu di Louvre di Paris dan sepakat untuk “mendorong stabilitas nilai tukar dolar AS. Pemerintah Amerika Serikat mempublikasi bahwa mereka sering melakukan intervensi secara langsung untuk membeli dolar.

1988-1990 – Penguatan dolar AS semakin berlanjut dan terlampau tinggi. Amerika Serikat melakukan intervensi setelah Kelompok Tujuh menyatakan bahwa pentingnya menjaga stabilitas nilai tukar.

1991-1992 – AS dan bank sentral Eropa melakukan intervensi beberapa kali ditengah jatuhnya ekonomi AS ke dalam resesi selama Perang Teluk, yang menyebabkan melemahnya nilai dolar. Amerika Serikat melakukan intervensi di kedua sisi, menghabiskan lebih dari $2,5 miliar membeli dolar dan kemudian menjual $750 juta untuk menstabilkannya.

April – Agustus 1993 – Pemerintah AS membeli dolar dan menjual yen secara bersamaan.

Apr 1994-Agustus 1995 – Dolar terjun ke level terendah terhadap mata uang German Mark, mencapai level 1.41 pada bulan Juli 1995, dan menyentuh posisi terendah pasca-Perang Dunia ke-II terhadap yen di bawah level 83 pada bulan April 1995. Mulai April 1994, Amerika Serikat melakukan intervensi secara langsung. Sering kali bekerjasama dengan bank sentral Jepang dan bank-bank Eropa untuk menopang mata uang USD. Intervensi gabungan dengan bank-bank Eropa pada periode ini berlangsung pada 15 Agustus 1995.

April – Juni 1998 – Nilai tukar yen terlalu lemah membuat BOJ melakukan intervensi untuk menstabilkan mata uangnya. Saat itu dolar mencapai level 144 terhadap yen. Pada tanggal 17 Juni 1998, BoJ dan Pemerintah AS melakukan intervensi bersama dengan mengeluarkan dana mencapai $833 juta untuk membeli yen.

Jan 1999 – April 2000 – Jepang khawatir dengan nilai yen yang terlalu kuat, diperdagangkan sekitar 108 terhadap dolar pada Januari 1999. Penguatan ini dikhawatirkan akan mengganggu proses pemulihan ekonomi jepang. BoJ melakukan intervensi di pasar forex untuk menstabilkan nilai tukar yen. BOJ menjual yen setidaknya 18 kali pada periode ini, termasuk satu kali melalui Federal Reserve dan satu kali melalui ECB. Meski mengalami intervensi, USD/JPY yen terus menguat dan mencapai level 102 pada bulan April 2000.

22 September 2000 – Bank sentral Eropa, Jepang dan Amerika Serikat untuk pertama kalinya melakukan intervensi secara bersama sejak terakhir kali terjadi pada tahun 1995. Ketiga bank sentral utama tersebut turun tangan untuk mendorong nilai euro supaya menguat setelah nilai tukarnya mencapai titik terendah di bawah 85 sen. Pada saat itu euro sempat kehilangan hampir 30 persen dari nilainya sejak peluncurannya pada bulan Januari 1999. Ini merupakan intervensi pertama kali yang dilakukan oleh ECB sejak awal didirikan.

3 – 10 November 2000 – ECB dan bank sentral di negara-negara zona euro lainnya melakukan intervensi setidaknya dua kali untuk membeli euro, setelah sebelumnya EUR/USD mampu rebound sebesar 5% dari level terendahnya di 0.8225.

17 & 21 September 2001 – BOJ melakukan intervensi dengan menjual yen dan membeli dolar (membeli USD/JPY).

24, 26, 27 dan 28 September 2001 – BOJ melakukan intervensi dengan membeli USD/JPY sama seperti 3 hari sebelumnya. Intervensi ini dilakukan ditengah khawatiran atas kenaikan ekspor dan menaikan nilai yen setelah terjadi 11 September di Amerika Serikat. Perlu untuk diketahui, intervensi kali ini juga adanya aksi pembelian euro yang dilakukan oleh ECB namun menggunakan atasnama BoJ. Selanjutnya pada tanggal 27 September, pemerintah Jepang mengatakan bahwa Federal Reserve bagian New York melakukan intervensi menggunakan “backup” dari BoJ.

22 Mei 2002 – BOJ melakukan intervensi dengan membeli USD/JPY, setelah dolar jatuh ke level terendah di 123.50 terhadap JPY karena meragukan kecepatan pemulihan ekonomi AS. BoJ melakukan intervensi pada harga 123.80 – 123.90 yen per dolar.

23 Mei 2002 – BoJ melakukan intervensi dalam dua hari berturut-turut, melakukan aksi beli di 123.90 – 123.95.

31 Mei 2002 – BoJ melakukan intervensi dengan membeli USD/JPY karena dolar turun ke sekitar level 123. Intervensi ini membawa nilai tukar dolar kembali ke 124.50 terhadap yen.

4 Juni 2002 – BoJ melakukan intervensi dengan menjual yen dan mengangkat dolar dari level 123.35.

24 Juni 2002 – BoJ melakukan intervensi dengan menjual yen di sesi pasar Asia, mengangkat dolar ke level 122.80 dari sebelumnya 121.10.

26 Juni 2002 – Bank of Japan melakukan intervensi dengan menjual yen dan mengangkat dolar ke 121.35 dari sebelumnya di 120.20. Intervensi kedua mengangkat dolar ke sekitaran 121.10 dari sebelumnya 120.50. Kemudian intervensi ketiga dilakukan pada awal sesi Eropa dan mengangkat USD/JPY ke 120.70 dari 120.03. Dalam publikasi resminya, BoJ diperkirakan telah membeli sekitar $18.56 miliar dalam operasi intervensi selama di bulan Juni, termasuk juga pada tanggal 31 Mei.

28 Juni 2002 – B0J melakukan intervensi dengan menjual yen. Federal Reserve dan ECB juga menjual yen atas nama B0J di awal perdagangan sesi New York. ECB mengkonfirmasi bahwa mereka membeli EUR/JPY. Dalam data resmi, banyak para pelaku retail (trader) juga ikut terjun dalam aksi ini dan menyebabkan pergerakan tajam EURJPY dari 118.10 ke posisi tertinggi di atas 119. Data lain juga mengatakan bahwa The Fed membeli USD/JPY dari 119, mengangkat dolar ke posisi tertinggi ke area 120.35 terhadap yen. Data yang dirilis oleh BoJ sebulan setelah intervensi ini menunjukkan bahwa Jepang mengucurkan dana sekitar 520.5 miliar yen untuk melemahkan nilai yen.

Januari 2003 – Kali ini Jepang melakukan intervensi sendirian tanpa ‘bantuan’ dari bank sentral. Intervensi ini dilakukan di bawah pengawasan diplomat keuangan utama Zembei Mizoguchi yang baru diangkat saat itu. Pemerintah Jepang mengatakan intervensi ini menghabiskan dana sekitar 700 miliar yen.

28 Februari 2003 – Kementerian Keuangan Jepang mengkonfirmasi telah melakukan intervensi selama dua bulan berturut-turut, membeli dolar dan euro senilai sekitar 513 miliar yen. Dalam laporan resmi bahwa pemerintah Jepang telah meminta BoJ untuk masuk ke pasar beberapa kali pada akhir Februari dan melakukan pembelian euro dan menjual yen.

Januari – Maret, 2003 – Data resmi menunjukkan bahwa pemerintah Jepang telah menghabiskan dana sekitar 2,5 triliun yen untuk intervensi mata uang di bulan Januari sampai Maret.

13 Mei 2003 – Jepang melakukan intervensi dengan menjual yen setelah dolar turun serendah 116.36 yen pada akhir perdagangan di sesi Asia. Tidak ada konfirmasi dari pemerintah Jepang atas berapa dana yang dibutuhkan.

Juni 2003 – Jepang menjual sekitar 628,9 miliar yen di pasar mata uang pada periode 29 Mei – 26 Juni untuk membendung penguatan nilai tukar yen.

Juli 2003 – Jepang menjual sekitar 2.0272 triliun yen pada bulan Juli untuk mencegah penguatan yen yang sempat bergerak tajam.

September 2003 – Jepang menjual sekitar 4,4573 triliun yen, dana yang cukup besar untuk intervensi di pasar mata uang pada bulan September setelah sebelumnya menahan diri dari rencana intervensi yang ditunda pada bulan Agustus. Para ekonom mengatakan bahwa semua intervensi dilakukan sebelum tanggal 20 September, ketika Kelompok Tujuh negara industri mengeluarkan sebuah pernyataan yang meminta fleksibilitas dalam nilai tukar.

Oktober 2003 – Jepang menjual sekitar 2.723 triliun yen antara tanggal 27 September dan 29 Oktober Pada tanggal 30 September, Departemen Keuangan mengkonfirmasikan bahwa pemerintah Jepang membeli USD/JPY, bertindak melalui Federal Reserve bagian New York.

November 2003 – Jepang menjual sekitar 1.5996 triliun yen antara tanggal 30 Oktober dan 26 November. Pada periode ini dolar sempat jatuh ke level terendah di 107.52 terhadap yen.

Desember 2003 – Jepang menjual sekitar 2.2519 triliun yen antara 29 November dan 26 Desember. Departemen Keuangan menyebutkan dalam rencana anggaran untuk 2004/05 bahwa mereka akan menaikkan total dana untuk intervensi menjadi 140 triliun yen dari 79 triliun pada tahun 2003. Sebelum anggaran tersebut disahkan, menteri keuangan meminta BOJ untuk menyediakan dana jangka pendek dengan membeli obligasi luar negeri dan berjanji akan membelinya kembali.

30 Januari 2004 – Jepang menjual sekitar 7.1545 triliun yen antara 27 Desember dan 28 Januari. Pada periode ini Dolar jatuh ke level terendah di sekitar 105.45 terhadap yen pada 27 Januari. Kementerian Keuangan Jepang juga menjual 5.014 triliun yen obligasi asing ke BoJ untuk mengumpulkan dana intervensi melalui kesepakatan repo di mana ia akan membeli kembali obligasi tersebut di kemudian hari.

Februari 2004 – Jepang terus melakukan intervensi dengan dana yang cukup besar, menghabiskan sekitar 3,3420 triliun yen untuk menahan kenaikan yen. Dolar sempat mencapai level 105.14 yen setelah sempat rebound 4,5%.

Maret 2004 – Jepang menjual sekitar 4,7026 triliun yen dalam intervensi mata uang sepanjang bulan Maret. Pada kuartal 1, Jepang menjual 14,8315 triliun yen untuk membendung kenaikan yen, masuk ke pasar selama 47 hari antara 1 Januari dan 31 Maret. Bulan Maret ini merupakan waktu berakhirnya kampanye 15 bulan yang dilakukan Jepang untuk mengekang kenaikan yen. Total dana yang dihabiskan mencapai 35 triliun yen atau lebih dari $ 300 miliar.

Juni 2007 – Selandia Baru melakukan intervensi untuk pertama kalinya sejak diterbitkan mata uang NZD di pasar forex. Intervensi ini dilakukan setelah permintaan untuk mata uang NZD yang mendorongnya ke level tertinggi dalam 22 tahun terakhir. Saat itu NZD/USD mencapai level 0.7640. Harga tersebut dianggap oleh bank sentral Selandia Baru (RBNZ) adalah harga yang tidak masuk akan dan tidak sesuai dengan prospek fundamental ekonomi saat itu.

12 Maret 2009 – SNB melakukan intervensi untuk melemahkan mata uang CHF. Intervensi ini untuk pertama kalinya sejak Agustus 1995 setelah franc menyentuh titik terendah di 1.4576 per euro. Intervensi ini kemudian mendorong EUR/CHF ke 1.5450.

Des 2009 – Mar 2010 – Trader mengutip aktivitas SNB pada 21 Desember, 29 Januari, 12 Februari, 23 Februari dan 2 Maret untuk mempertahankan level 1,46 per euro.

April 2010 – SNB melakukan intervensi di pasar FX untuk melemahkan franc terhadap euro. Data pemerintah Swiss menunjukkan cadangan devisa dalam bentuk mata uang CHF yang sebelumnya 28,7 miliar franc ($ 24,83 miliar) naik menjadi 153,6 miliar franc di bulan April. SNB menambah intervensi valuta asingnya untuk menahan EUR/CHF bertahan di sekitar 1.43.

Mei 2010 – Swiss National Bank kembali melakukan intervensi di pasar untuk melemahkan franc karena mata uang tersebut mencapai level tertinggi sepanjang sejarah di atas 1.40 per euro.

Add a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 komentar

Latest Articles